RSS

KASIAN IBUKU

KASIAN IBUKU HARUS KU PERKOSA


Malam itu, semua penduduk kampong ditangkapi. Bahkan banyak yang dipukuli dan disiksa. Semua menderita. Popor senjata, membuat banyak kepala orang berdarah-darah. Begitulah Alif menceritakan kisahnya, kenapa dia sampai berada jauh dari kampung halamannya. Kampung halaman yang selama sekian tahun menajdi daerah konflik.
Orang-orang yang menggiiring mereka dari kampung itu, benar-benar kasar. Banyak anak gadis, janda bahkan isteri orang diperkosa dan diperlakukan seperti binatang. Termasuk Alif sendiri beserta ibunya.
Setelah beberapa hari berada dalam tahanan, mereka yang berseragam loreng-loreng dan tidak diketahui dari mana, selalu saja beringas dan suka memukuli. Memukul dan menyiksa, seperti sebuah hiburan bagi mereka. Terlebih jika yang dipukuli itu menjerit-jerit dan mati ketakutan dan terkencing-kencing.
Alif tak tahu bagaimana keadaan keluarganya. Apakah ayahnya masih hidup atau tidak. Dia juga tak tahu bagaimana keadaan ibunya serta dua orang adik-adiknya. Mereka yang berada dalam tahanan itu hanya diam dan saling menatap. Takut berbicara. Salah sedikit berbicara, adanya saja prajurit yang mabuk mencari-cari alasan untuk memukuli dan menyiksa.
Malam puku 02.00 ALif dikeluarkan dari selnya. Dia dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Di sana dia sudah melihat ibunya yang telanjang bulat. Bugil, tanpa sehelai benang pun. Alif dipaksa bugil juga. Dia dipaksa untuk bersetubuh dengan ibu kandungnya di bawah ancaman bayonet yang tajam oleh tiga orang prajurit.
Alif sangat keberatan melakukan printah itu. Ibunya sangat tak mampu melihat ALif diperlakukan dengan kasar. Alif yang masih berusia 16 tahun dan ibunya 37 tahun hanya mampu menutup matanya. Alif mendekati ibunya. Ibunya hanya diam saja.
"Lakukanlah nak, apa y ang mereka perintahkan. Dari pada kau mati sia-sia," kata ibunya memelas dengan kasih sayang yang rela mati demi anaknya.
"Tidak bu... biar;lah aku mati, asal ibu selamat," kata Alif dengan bahasa daerah mereka.
Tapi Alif akhirnya mencium bibir ibunya, saata seorang prajurit memukul pipi ibunya dengan keras. Tak tahan Alif melihat ibunya disiksa. Alif sudah berkali-kali meminta prajurit itu, agar dia saja yang disiksa, asal jangan ibunya.
Ibunya ditelentangakan oleh mereka. Alif dipaksa menyetubuhi ibunya. Saat kedua tangan ibunya merengkuh tengkuk ALif agar menciumnya dan memperkosanya, Alif yang belum pernah bersetubuh itu, jadi kebingungan. Dibalasnya ciuman ibunya.
"Lakukanlah, apa yang mereka kehendaki, yang penting kamu selamat," bisik ibunya. Alif memeluk ibunya disaksikan oleh tiga orang prajurit berseragam loreng dan buas itu. Supaya cepat, ibu ALif menuntun kontol Alif memasuki lubang pepeknya. Saat Kontol Alif yang akhirnya tegang juga, begitu cepat memasuki pepek ibunya. Secara refleks, Alif mulai memaju mundurkan kontolnya dalam lubang vagina ibunya. Keduanya ibu dan anak itu menutup mata mereka. Alif akhirnya mengejang dan mengeluarkan spermanya di rahim ibunya. Mereka pun terkulai.
Prajurit itu tertawa terbahak-bahak kesenangan. Salah seorang pergi meninggalkan kamar. Tak lama kemudian dia datang lagi dengan tiga orang perempuan dari kampung lain yang juga sudah 10 hari ditahan. Prajurit itu, masing-masing mengambil seorang perempuan itu di hadapan ALir dan ibunya. Mereka melepaskan nafsu bejatanya, di sela-sela tangis ketiga perempuan yang mereka perkosa. Sementara Alif memeluk ibunya di sebuah sudut. Kedua mereka merasa takut.
Menjelang subuh, ALif berpakaian dan diseret kembali ke tahanannya setelah ibunya disuruh berpakaian.
Tiga hari setelah itu, Alif diambil lagi ke tahanannya oleh prajuurit yang sama. Dia dipaksa lagi memperkosa ibunya. Agar kelihatan seperti diperkosa, ibunya pura-pura meronta.
"Aku pura-pura diperkosa dan pura-pura meronta," bisik ibunya pada Alif. Alif pun berlagak memperkosa ibunya yang sudah pasrah, demi keselamatan anaknya, karena sang ibu juga tidak tahu, bagaimana nasib suaminya dan dua lagi anaknya.
Ada 10 kali mereka melakukan persetubuhan itu, sampai akhirnya daerah itu dinyatakan bukan lagi daerah darurat. Alif dan ibunya dibebaskan. Mereka pulang ke kampung halamannya. Tapi mereka tak menemui keluarga mereka. Alif dan ibunya sepekat pergi meninggalkan kampung, karena ibunya sudah hamil. Alif juga melihat kaum ibu lainnya ada beberapa yang hamil, beserta dengan perempuan muda lainnya, juga hamil. Mereka semua mengaku, kalau diperkosa oleh prajurit. Alif dan ibunya saling berpandangan.
"Apa ibu tidak diperkosa oleh jahannam-jahannam itu," bisik Alif. Ibunya menggeleng.
"Janin dalam tubuhku ini, adalah anakmu. Murni anakmu," kata ibunya berbisik pula.
Di sebuah sudut rumah mereka yang terbakar, ibu Alif mengorek-ngorek lubang dengan parang yang sudah hitam berkarat.
"Ada apa,Mak?" tanya ALif.
"Aku menyembunyikan emas di sini," bisk ibunya. Alif bersemangat membantu ibunya yang sudah hamil empat bulan itu. Benar saja, di sebuah kaleng kecil, ibu Alif mengambilnya dan membuang kaleng itu. Keluarga ALif sebagai keluarga pedagang, terkenal di kampung itu.
"Emas ini ada 2 Kg. Kita bisa pindah jauh dari sini," kata ibunya. Alif setuju. Terlebih setelah mereka mendengar dua adik Alif dan ayahnya bersama dengan penduduk lain ditembaki di hutan. Di kuburkan dalam satu lubang bersama puluhan penduduk lain.
Mereka pergi meninggalkan kampung setelah mendapat sepotong surat dari kepala Kampong. Lebih 2.000 kilometer jauhnya mereka meninggalkan kampung halamannya. Di daerah itu, mereka melaporkan diri kepada kepala desa. Melihat surat itu berasal dari daerah berkas konflik, kepala desa langsung menerima mereka. Malam itu ibu Alif yang berbicara, kalau dia hamil diperkosa oleh prajurit-prajurit. Semua keterangan ibu Alif membuat kepala desa dan pengetua adat simpati. Akhirnya, ibu Alif menyatakan niatnya untuk dinikahkan dengan Alif teman sekampungnya yang menyelamatkan dirinya, dan agar ketika bayinya nanti lahir, bayi itu punya Bapak. Alif sangat terkejut mendengarkan ucapan ibunya itu. Malam itu juga mereka dinikahkan. Malam itu juga mereka dicarikan rumah kontrakan.
Sebulan kemudian, Alif dan ibunya menempati rumah kecil dan membeli 2 hektar tanah perladangan. Mereka hidup di sana. Jauh dari kampung halamannya dan ingin melupakan semua yang terjadi.
"Terima kasih Alif. Kalau kamu tidak mengikuti perintah mereka dan bisikan Mak, mungkin kita berdua sudah jadi mayat," kata ibunya. Alif tersenyum saja. Alif memeluk ibunya dengan kasih sayang. Malam itu mereka tidur berpelukan dan saling memuaskan birahi mereka tanpa ancaman dan dengan kasih sayang. Biarlah rahasia mereka, menjadi rahasia seumur hidup.
Alif dan Ibunya telah memiliki dua orang putra, laki-laki yang benar-benar sehat.
Alif pun sudah lupa, kalau isterinya itu, adalah ibu kandungnya, demikian juga sebaliknya. Alif orang yang ulet seperti ibunya. Tanah perladangannya yang ditumbuhi oleh sawit sudah berbuah lebat. Ibunya yang pedagang kain dari kampung ke kampung maju dengan pesat. Di kampung itu, mereka sudah mengganti namanya sesuai permintaannya kepada kepala kampung, agar mereka tidak dikenali oleh siapapun juga.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

© 2009 - Pustaka Orang Dewasa | Design: Choen | Pagenav: Abu Farhan Top